Kamis, 01 Oktober 2015

Make a Mistake



Refleksi 2 Oktober 2015
Make a Mistake

Today I know that to make an art work is so hard. Living on the orbit of the art world is hard. But I remember that there is probability and possibility. After this challenge, there will be a victory. The victory lies in a varieous solution. It appears one by one.
Paulo Coelho mengatakan bahwa apapun yang kuinginkan bisa saja kejadian asal ada langkah pasti realisasi. Universe conspires to help you but I must make a mistake and It will guide me. We only learn anything by make a mistake.
What mistakes faced today is how many learning something new.

Saya bukan koruptor kok, lho!



Puisi Wijithukulism 2 Oktober 2015
Saya bukan koruptor kok, lho!

Digeledah KPK,
ada banyak uang dalam jaket.
Banyak uang belum tentu dari korupsi kan!?
Bisa jadi dari hasil kerja anak-anak haramnya di perempatan.
                Jadi kaya bisa juga dengan jalan halal.
                Masyarakat tertentu kadang menganggap bahwa wang pasti hasil babi ngepet.
               
Tapi emang benar sih, nepotisme tak dapat dihilangkan.
                Nepotisme sah-sah saja terjadi dalam keluarga besar.
Kalau seorang menganggap anggota keluarga lain bajingan?
Ya nepotisme menjurus pada teman-teman dekat.
Kalau tak ada teman-teman dekat?
Ya kepada siapa sajalah yang mau.
                Jadi, karena korupsi makin dihalangi oleh hukum
                Mari melirik bisnis kolusi dan nepotisme!
                Tuhan pernah mengatakan dalam Bibel: “Orang miskin akan selalu ada padamu.”

Asumsi Normalitas Data Statistik



Proisi 2 Oktober 2015
Asumsi Normalitas Data Statistik

Bayangkan saja gambar kurva normal data statistik itu!
Dari kecil membesar sampai titik puncak lalu mengecil lagi.
Polanya sangat simetris, seperti satu gelombang air tsunami.
Begitulah gambar kurva normal dalam ilmu statistika. Mari lihat gambar tersebut dengan kacamata filsafat. Pernahkah Anda membaca Aleph karya Paulo Coelho? Kalau Anda pernah membaca karya tersebut pasti sudah paham apa yang ingin saya sampaikan melalui proisi (prosa puisi) ini.
Semua fenomena di dunia pasti memenuhi asumsi normalitas data statistik. Katakanlah status ekonomi. Data kiri mencerminkan kalangan miskin sedangkan data kanan mencerminkan kalangan kaya. Pastilah mayoritas kalangan berada di tengah.
Fenomena sosial juga tidak luput dari asumsi normalitas data statistik. Makin ke kiri menggambarkan makin kurang terpelajarnya seseorang sedangkan makin ke kanan menggambarkan makin terpelajarnya seseorang. Mahagoblog dan orang mahacerdas pastilah dapat dihitung jari.
Bila teori atau sebenarnya hukum normalitas data statisti ini dapat diterima, maka orang tak perlu lagi takjub pada suatu kejadian. Semua kejadian apapun itu normal-normal saja. Semua kejadian adalah wajar untuk ada. Saya tidak menemukan alasan lagi untuk terkejut. Tak ada lagi yang amazing.

Bila tiba-tiba ada seorang datang lalu menembak leher saya, itu normal.
Bila kapitalis ingin direvolusi untuk menumbuhkan kapitalisme baru, itu normal.
Bila saya harus mati tertabrak kereta api, itu normal.
Bila korupsi terus jaya, itu normal.

Orang miskin akan selalu ada padamu, itu normal.
Penindasan sampah masyarakat dan penegakan HAM, itu normal.
Konspirasi politik ekonomi Timur Tengah, itu normal.

Anak pemulung kuliah di Hardvard, itu normal.
Dapat lotre sejuta dollar Amerika, itu normal.


Perang nuklir, itu normal. Lha wong sudah bikin bomnya, kalau tidak digunakan mubadzir, dosa kan!

Asumsi normalitas data statistik adalah hukum agung Mahakuasa
Aturan keseimbangan alam tersebut tak mengizinkan semua orang kaya raya
Tak mungkin semua orang jadi tenar dan dihormati
Sebagian harus mati ngeri tanpa materi.

Thank You so much

Art Today, First Friday on October

Thank you so much for the foreign viewer from Alaska, US, Australia, and Malaysia. I hope you find a happiness from my writings. Soon, I'll upload an English version of my best art works. It'll become a book too and I'll share it freely through nulisbuku.com, youtube.com, this blog, and many varieous way.
Once again, thank you. Be Blessed.

Selasa, 29 September 2015

Adik Kecil Keponakanku



Puisi 29 September 2015
Adik Kecil Keponakanku

Namanya Andira. Dia sudah belajar siapa dirinya.
Dirinya adalah Andiyyyaa. Pengucapannya berat dan ragu.
Kalau spontan bilangnya Yayak, kadang Ayaya, bisa juga Yayayyayayay.
                Senjata andalannya nangis. Kalau rewel gitu pasti ada maunya.
                Ngeluhnya sambil minta gendong, “Tuti-tuti! Tuti-tuti.”
                Sambil nangis sering malah minta duduk di teras, “Tutututuutututututututupaaaaaaaa!”
                Kalau tidak, minta duduk depan TV, “Tutututuututupapipi. Tututuututututututupapipi.”
                Anehnya kalau ditetung Oma tidak pernah mau. Waktu bayi dulu padahal mau.
                Dalam kepasrahan dan tabularasa.
                Dalam kesucian tanpa noda, menganggap semua orang baik dan menyenangkan.

Kalau sedang jalan sama mamanya dan tiba-tiba lihat Oma dia berteriak, “Oma Oma Oma Oma!”
Inginnya tidak ditinggalkan baik oleh Tuti, Kung, Oma, dan Mama.
Tapi ya tidak bisa begitu.

                Kalau pergi mak mama mak Oma lantas beli sesuatu,
                Ayaya tahunya yang belikan Oma padahal mama.
                Gitupun masih belum mau digendong Oma.
                Kalau sama Oma aga aneh lah. Oma ga punya banyak waktu kaya Tuti sih.
                Lagian, kalau ma Tuti dah terlanjur nempel abis.
                Teknik ini akan jadi pendekatan konspiratif agar nanti mama bisa kerja cari wang.