Senin, 28 September 2015

Kisah Cinta Andy Meruntuhkan Bintang-Bintang



Puisi 28 September 2015
Kisah Cinta Andy Meruntuhkan Bintang-Bintang
Awalnya Andy tidak bisa mencintai. Ia lantas belajar siang dan malam. Siang belajar di sekolah dan malam belajar di rumah saat jam belajar masyarakat digalakkan.
Manis cintanya itu seperti anggur merah bila setua lautan. Anggur merah murni tanpa campuran air kelapa muda.
Wanita yang Andy lihat pertama kali waktu SD menandai bahwa Andy harus belajar jatuh cinta. Tidak bisa ditunda lagi. Baginya, hasrat mencinta adalah wajar, tidak sepertiku. Aku tak punya hasrat cinta.
Wanita SD itu bernama Marilyn. Andy pernah dengan canggung menyapa Marilyn, “Halo!” Marilyn tersipu karena ia sudah punya pacar. Andy yang tahu hal ini tidak menyerah.
Singkat cerita, Andy dan Marilyn saling berusaha selingkuh. Bagi Andy, ini adalah pacaran pertama sekaligus dapat pengalaman berharga tentang kiat-kiat melakukan perselingkuhan yang baik.
Marilyn rajin memberi arti buat hidup Andy yang kesepian melulu. Kemampuan gaib Marilyn juga dilaporkan mampu untuk merasakan kandungan rasa dalam hati Andy. Gaib banget.
Sering mereka jalan berdua ke Malioboro sambil belajar ilmu kesaktian. Andy yang asli keturunan New York tentu asing dengan jurus-jurus sakti Marilyn yang diwariskan neneknya.
Demi cinta, Andy belajar getol sampai ia bisa memanggil malaikat sendiri. Suatu kali datanglah bersama sekawanan malaikat dari surga dan neraka. Ternyata mereka akur-akur saja.
Ilmu terakhir yang dipelajari Andy dari Marilyn sebelum mereka putus adalah jurus menghancurkan bintang. Jurus itu mampu membakar sepertiga bintang di langit sampai abunya jatuh menyelimuti bumi selama 1000 tahun. Konon, Jurus sakti ini adalah satu-satunya harapan untuk membunuh Jong Un.
Mengapa mereka putus juga?
Karena Andy gagal mengukur cinta Marilyn dengan penggaris plastik bonus buku tulis.
Andy gagal memberi jawaban pasti tentang besaran cinta Marilyn padanya.
Akhir kisah cinta ini begitu tragis. Andy dalam kemarahannya membakar Marilyn dengan jurus penghancur bintang. Jurus itu pada awalnya berkedip-kedip di kepalan tangan Andy. Jurus itu kemudian terlontar ke luar angkasa seperti komet Halley sebelum akhirnya menyambar leher Marilyn.
Setelah membunuh Marilyn, Andi melanjutkan hidup seperti biasanya.

DVB, mengapa kau begitu Cantik?



Puisi 28 September 2015
DVB, mengapa kau begitu Cantik?

Bait 1:
Fotografer memotretmu dengan sempurna. Kau memang cantik.
Dengan atau tanpa make up, kau memang cantik.
Dengan atau tanpa baju, kau memang cantik.
Kalau baru bangun tidur, kau juga cantik.
Bila hatimu tidak lembut, kau tetap cantik.
DVB, doakanlah kami.

                Reff:
Kusimpan dua fotomu sebagai kliping paling berharga.
                Kusimpan memori tentangmu sebagai impian.
                Dengan atau tanpa baju, kau memang cantik.
                DVB, doakanlah kami.

Bait 2:
DVB, aku memujamu tiap hari. Tak ada lelaki yang tak memujamu.
Bila saja kamu tidak cantik, aku tetap memujamu.
Bila cantikmu hanya karena baju, aku masih memujamu.
Bila cantikmu murni misalnya tanpa baju, siapa yang tidak memujamu?
Aku ajak dunia untuk memujamu.
DVB, doakanlah kami.

Keanehan Cerpen Kompas Minggu 27 September 2015



Essay Pembelajaran Bersama 28 September 2015

Keanehan Cerpen Kompas Minggu 27 September 2015

Sekilas saya membuka-buka koran Kompas hari Minggu, 27 September 2015, langsung terasa ada kejanggalan. Pusat kejanggalan ada di kolom favorit saya yaitu cerpen. Mengapa tidak ada profil singkat penulis cerpen yang biasanya disajikan di akhir cerita?
Profil singkat penulis cerpen Kompas sejauh ini saya pahami sebagai bukti kredibilitas penulis cerpen. Profil singkat tersebut secara tak langsung juga menyatakan bahwa koran Kompas hari minggu tidak menerima tulisan dari penulis amatir. Kompas minggu nampaknya hanya menerima cerpen dari penulis yang mampu menunjukkan dedikasi misalnya dengan kepemilikan antologi cerpen yang telah diterbitkan dalam bentuk buku. Apakah benar asumsi saya ini?
Apakah koran Kompas tidak menerim cerpen amatir yang kebetulan bermutu tinggi? Nanti dulu! Point saya bukan di sini. Tema ini dapat dibahas panjang lebar dalam kesempatan lain. Point utama saya adalah ketiadaan profil singkat penulis cerpen Kompas minggu, 27 September 2015. Sudah, itu saja.
Sedikit tambahan, saya mencoba memberikan kritik sastra untuk cerpen karya Thomas Nung Atasana berjudul Durian yang Bulat-bulat Menerobos Kerongkongan. Dari judul dulu, sudah terasa ada yang salah dengan susunan kata-kata. Saya tidak tertarik untuk mengungkap hal ini. Saya lebih tertarik untuk mencermati tema utama cerita pendek ini. Setiap orang termasuk saya memang memiliki interpretasi sendiri-sendiri. Namun demikian karya tetap tidak boleh ambigu. Kecenderungan menimbulkan pertanyaan dan perenungan di akhir kisah tidak sama dengan cerita berending ambigu.
Nah, cerpen kali ini bagi saya lebih bertemakan masalah psikologis yang terkandung dalam tokoh ibu. Mimpi menelan durian bulat-bulat oleh tokoh ibu adalah proyeksi permasalahan pokok yang seharusnya menjadi fokus penulisan cerpen secara menyeluruh. Dilema tokoh ibu untuk berbagi atau tidak berbagi buah durian menggambarkan fakta hati tokoh ibu yang sebenarnya. Tokoh ibu sebenarnya tidak ingin berbagi durian karena ingin menikmati sendiri panenan duriannya. Hasrat ini ditekan sehingga dalam praksis tokoh ibu tetap melakukan aksi bagi-bagi durian. Penekanan hasrat menikmati sendiri ini lantas termanifestasi dalam mimpi menelas durian utuh-utuh dengan kulitnya yang berduri.
Saya tidak ingin berpanjang lebar dalam memberikan analisis psikologis. Bila anda ingin melakukan analisis psikologis secara mendalam, silahkan melakukan kajian teori terlebih dulu melalui buku teks psikologi proyektif misalnya dengan merujuk pada dreams and drama karya Alan Roland (2002). Sebagai konklusi saya ingin mengajak anda untuk kembali pada point utama tulisan saya ini yaitu tentang ambiguitas penulisan cerpen. Berdasarkan tema utama yang berpijak pada masalah psikologis tokoh ibu, anda akan merasakan ambiguitas setelah membaca paragraf terakhir. Tapi jangan-jangan yang dimaksud penulis tidak seperti yang saya pahami? Sangat mungkin. Tapi bagi saya ending cerpen ini masih terasa ambigu. Bukankah dalam menikmati seni kita lebih menekankan penggunaan rasa?  

Revolusi Youtubers, Surat untuk redaksi Cerita Kompas.



Essay 28 September 2015

Revolusi Youtubers, Surat untuk redaksi Cerita Kompas.

Tulisan ini saya maksudkan untuk kepentingan pribadi antara ide saya dengan pihak redaksi Cerita Kompas. Saya rasa tulisan yang jauh dari standar kepenulisan Kompas ini juga tidak layak untuk diterbitkan. Trimakasih sebelumnya.
Pertama-tama terimakasih kepada Kompas TV yang akan menyajikan tayangan berkonten pendidikan bermutu. Dari tulisan DOE di Kompas Minggu, 27 September 2017 berjudul Nonton Cerita di Balik Berita ini saya yakin bahwa tayangan Cerita Kompas pasti akan bagus-bagus, memberi hal baru, mencerahkan, dan beragam sanjungan positif lainnya. Intinya saya sangat menyambut baik program Cerita Kompas ini. Sedikit curcol: saya yang notabene pengangguran kiranya akan selalu bisa meluangkan waktu untuk nonton Cerita Kompas. Hehe. Semoga kelonggaran waktu saya juga bisa memberikan surat-surat masukan konstruktif yang semata-mata demi kemajuan mutu pendidikan di Indonesia.
Nah, point utama tulisan saya di sini adalah berupa masukan kepada redaksi Cerita Kompas. Manurut saya adalah baik untuk selalu mengupload video-video Cerita Kompas yang telah ditayangkan ke dalam channel youtube Kompas TV. Aksi upload seperti ini memberikan kesempatan bagi orang kebanyakan yang tidak bisa meluangkan waktu di depan TV untuk menonton Cerita Kompas di jadwal waktu yang telah ditentukan. Curcol lagi, channel youtube dapat saya katakan sebagai televisi masa depan.
Inilah mengapa saya tidak ragu untuk menggunakan terminologi revolusi youtubers. Dalam bidang ini tentu saja Kompas TV sangat tidak ketinggalan. Jumlah video dalam channel Kompas TV sudah menunjukkan konsistensi dan semangat menjadi youtubers sejati. Tapi benar kan ya, sebagaimana kita tahu, TV kabel yang maju pada umumnya pasti punya channel youtube juga.
Akhir kata saya ucapkan terimakasih atas perhatian redaksi Cerita Kompas. Semoga tulisan saya ini bukan hal baru. Semoga apa yang saya lakukan ini dapat memajukan tayangan-tayangan berbasis video di Indonesia. Terima kasih. Salam dari saya, pembaca budiman dan penikmat youtube.

Point untuk Diingat



Essay 28 September 2015
Point untuk Diingat
Surat essay ini bukan untuk dimuat karena jauh dari standar kepenulisan Kompas. Surat essay ini saya harap dapat diteruskan untuk sdr. Nur Hidayat. Kalau boleh, saya juga meminta alamat email sdr. Nur Hidayat untuk berkorespondensi secara lebih pribadi. Tulisan ini adalah media pembelajaran saya dengan cara selalu menanggapi tulisan-tulisan di koran yang secara khusus dalam hal ini adalah Kompas. Saya tidak ingin tulisan semacam ini diterbitkan karena tujuan sebenarnya adalah untuk memberi masukan konstruktif kepada perkembangan jurnalisme di Indonesia. Semoga dengan ini saya dapat memberikan dampak baik bagi jurnalisme Indonesia. Salam dari saya, masyarakat pembaca budiman.
Saya senang dengan kolom Film di kompas Minggu, 27 September 2015 yang mengangkat judul Mitos Perempuan di Tubuh Laki-laki. Film ini nampaknya cukup berani untuk mengangkat topik sensitif. Film Indonesia ini mencoba mengorbitkan tema psikologis meski di sini saya menduga kuat adanya reduksi kajian teori.
Tulisan jurnalistik Nur Hidayat ini mampu menggambarkan film 3 Dara dengan baik. Maksud saya baik adalah mampu memberi proyeksi pada keseluruhan penyampaian makna melalui film baru ini. Kembali kepada reduksi kajian teori. Beberapa titik epifani dalam film ini pasti mengalami kekurangcermatan kajian teori psikologis misalnya tentang jender maupun perubahan perilaku. Akhirnya seperti film Arisan yang dibungkus dengan maksud komedi. Saya kok merasa bahwa motif komedi adalah strategi untuk menutupi kelemahan kajian teori.
Singkat kata laporan jurnalistik Nur Hidayat ini sudah memberi keyakinan pada saya bahwa film 3 Dara tidak jeli dalam risetnya. Riset pra filming pasti tidak mendalam sehingga terjadi skenario teatrikal menyanjung di tengah maksud surealis adegan-adegan.
Bagi saya tidak ada jalan tengah dalam hal seni peran. Surealis ya surealis sedang teatrikal ya teatrikal. Film teatrikal misalnya Missio Impossible. Film surealis misalnya The Persuit of Happiness. Bagi saya tidak ada pencampuran akidah antara dua ekstrem pendekatan seni peran ini.
In Summary, tulisan jurnalistik Nur Hidayat ini telah meyakinkan saya untuk tidak menonton film 3 Dara. Mengapa sih mengapa? Apa yang sebenarnya saya maksud? Semoga saya bisa menyajikan presentasi dengan lebih baik dalam postingan yang lain ya.
Point untuk diingat: Surealis VS Teatrikal, riset pra filming, dan kajian teori.
Sekali lagi maaf, ini curcol: “Dilihat dari daftar pemainnya saja saya sudah skeptis bahwa film ini akan sangat baik. Tapi ini tidak fair. Pointnya bukan pada siapa pemainnya. Saya sudah menuliskan tiga point penting untuk diingat hari ini.”
Trimakasih. Maju terus insan perfilman Indonesia.