Jumat, 02 Oktober 2015

Arsip Guyon Ora Waton 2 Oktober 2015



Arsip Guyon Ora Waton 2 Oktober 2015

1.       Ernita Destikara (Jawa Pos, 27 September 2015)
a.       Ono cah ayu nenteng toples, without you my life is hopeless
b.      Numpak becak abot siseh, eh mbak sampeyan kok ayu she
c.       Sepet-sepet sawo mentah, diempet-empet wes ora betah
d.      Nyangking ember kiwo tengen, lingguh jejer tombo kangen

2.       Damar Wiyono
a.       Kajasha UGM gelar safari di daerah rawan pemurtadan, ya ampun, masih ada saja kegelisahan tak berdasar macam ini. Minoritas tak mungkin jadi mayoritas, demikian sebaliknya.
b.      Pergaulan buruk merusak kebiasaan baik. Pergaulan baik merusakkan kebiasaan buruk.
c.       Katanya, orang berkepahitan dikutuk Tuhan. Jauh lebih terkutuk dong orang yang menjadi sebab kepahitan!
d.      Diskriminasi adalah kecemasan mayoritas atas kuasa semu minoritas.
e.      Selalu tercatat ingatan, media yang terlalu kiri, media yang terlalu kanan, dan media yang terlalu kanan kiri kanan kiri sampai cantik.
f.        Tiongkok makin mantap tancapkan pengaruhnya di Indonesia. Kereta cepat Jakarta Bandung resmi diurus Tiongkok. Tak perlu dikaitkan dengan PKI atau komunisme. Tiongkok juga kapitalis kok.
g.       China Development Bank (CDB) memberi pinjaman ke pihak Tiongkok untuk membangun kereta cepat Jakarta Bandung dengan tenor 40 tahun. Alto, soprano, dan bassnya berapa tahun ya?
h.      Penolak legalisasi daging anjing pasti belum pernah makan daging anjing. Hanya orang munafik yang mengatakan sengsu maupun sangsang B1 ala Toba tidak nikmat.
i.         Daging ayam sobek, daging atau ayamnya yang disobek?
j.        Pengusaha minyak memproduksi minyak. Pengusaha bakso memproduksi bakso. Pengusaha cerita memproduksi kata-kata. Pengusaha minyak tadi menjual minyak dan dapat duit. Pengusaha bakso jualan bakso sampe laku. Pengusaha cerita menulis cerita untuk dipublikasi lewat media cetak atau maya. Jenis pengusaha terakhir ini bagaimana bisa dapat duit? Siapa yang ingin beli kata-kata cerita, hubungi 085743773301. Kata-kata cerita akan dibumbui minyak bakso agar makin laris lho!

Kamis, 01 Oktober 2015

Pohon




Sketsa Sastra Tulis 2 Oktober 2015
Pohon

Di suau koran beberapa hari lalu, banyak orang memujamu. Mereka mungkin termotivasi hasrat primitif moyang mereka yang menyembah Pohon.
Pohon, maafkan aku! Kau tak lagi kupuja. Pujaan mereka sudah cukup.
Sediakan udara segar saja. Bila kau tak mampu, kami kan ambil alih agar tempatmu digantikan gedung-gedung bertingkat yang makin diperlukan banyak penduduk berhobi bikin anak.

HELM



Sketsa Sastra Tulis 2 Oktober 2015
HELM

Helm, kebijakan yang tidak nalar. Emang kenapa harus pakai helm? Agar kita selamat. Lantas kenapa kalau kita selamat? Kalau masyarakat sehat-sehat saja kenapa? Buat apa? Lantas apa? Emang pemerintah lalu mengambil keuntungan dari kondisi masyarakat yang baik-baik saja itu? Misalnya dikasih kerjaan gitu? Dia hanya bilang kerja, kerja, kerja, kerja tapi malah banyak PHK!
Wiji Thukul, andai kau di sini, bantulah aku merumuskan kegelisahan ini!

Karya Sampah



Puisi 2 Oktober 2015
Karya Sampah

Karya sastra terpeleset menjadi karya sampah. Tulisan tanpa literasi dianggap sampah. Omong kosong adalah sampah. Tulisan tanpa pengalaman hampir sampah. Omongan tanpa tulisan mungkin sampah. Tulisan tanpa omongan menyampah.
Sampah katanya. Tanpa pemikiran, sampah masyarakat. Sampah oh sampah. Aku lagi senang mengucapkanmu. Hadirmu menghidupkan beberapa orang seperti aktivis HAM (hak asasi manusia, kali) dan pekerja TPA (tempat pembuangan akhir). Tukang kompos juga membuat pupuk darimu.

Sampah, kau membuatku gelisah.
Aku gelisah esok menjadi sampah.
Terserah kalau sekarang sampah.
Sumpahku sampah.
“Sumpah, aku sampah!”

Presiden Indonesia Yang Sebenarnya



Puisi Nekat dan Ga Penting, 2 Oktober 2015

Presiden Indonesia Yang Sebenarnya

Presiden Pertama: Hayam Wuruk
Presiden Kedua: Raden Wijaya
Presiden Ketiga: Sri Sultan Hamengku Buwono IX
Presiden Keempat: Republik Rakyat Tiongkok
Presiden Kelima: Amerika
Presiden Keenam: vakum
Presiden Ketujuh: Raden Teguh
Presiden Kedelapan: Koplak
Presiden Kesembilan: Masyarakat Guys
Presiden Kesepuluh: Saya saja guys.