Jumat, 30 Oktober 2015

Menolak Lupa #IndonesiaUnite



Menolak Lupa #IndonesiaUnite
Essay 30 Oktober 2015
KAMI TIDAK TAKUT adalah bagian dari #IndonesiaUnite. Kata unite harus diucapkan seperti Charlie Chaplin dalam The Great Dictator. Ketegasan dan tekad terus digalakkan untuk Indonesia bersatu. Bersatu tanpa rasa takut, bukan berarti berani dalam segala hal. Baiklah ‘tidak takut’ menjadi dasar Indonesia bersatu #IndonesiaUnite!!!
Siapa yang ingat hashtag itu? Dulu pernah menjadi tranding topik yang menyedot mata internasional ke Indonesia, juga menaikkan laba Twitter, dan yah secara retoris mampulah membawa perubahan bagi bangsa Indonesia.
Orang di balik layar #IndonesiaUnite adalah Pandji Pragiwaksono, calon mentri pendidikan atau ekonomi kreatif lah. Setidaknya saya yang dukung mula-mula dengan postingan ini.
Lihat bahwa media sosial mampu mempengaruhi perilaku suatu masyarakat. Lihat bahwa perubahan bisa ditimbulkan hanya dengan twit ini twit itu. Apapun itu, ketika mulut mengucapkan sesuatu dan orang lain mendengar, di sana ada perubahan. Postingan ini misalnya, bisa jadi akan digunakan orang sebagai semacam bible untuk mendasari suatu revolusi di masa depan. Suatu manifesto, eh bisa jadi!
Ada kuasa di balik kata-kata. Inilah yang ingin saya dengungkan saat ini khususnya terkait dengan #IndonesiaUnite. Ayo hidupkan lagi semangat ini!!! Dengan menulis postingan optimistik tentunya. Bila bacaan kita optimistik, pastilah akan mempengaruhi perilaku jadi lebih optimistik. Pasti!
Berani bersuara adalah tolok ukur paling rendah, paling mudah, dan paling praktis pada era media sosial seperti sekarang ini. Orang tak perlu berebut memasukkan artikel ke koran kalau ingin diketahui idenya oleh orang lain. Bukankah pointnya memang di sana? Jadi, kita yang tidak punya standing akademik, tak perlu risau lagi untuk menyuarakan OPINI kita, hahahahhahahahahahh lol
Baik. Saya ngomong begini atau begitu adalah demi Indonesia yang lebih baik. Saya sedang terus membangun kepercayaan bahawa Indonesia bisa, setidaknya saya dulu yang bisa. Memantaskan diri dan mensukseskan diri untuk meraih satu cita-cita sudah berkontribusi besar untuk #IndonesiaUnite. Just like kata-kata motivator itulah.  
Saya berani berpendapat, saya berani beropini, berkata dengan bebas dengan media seperti ini untuk Indonesia dengan menghidupkan kembali ruh #IndonesiaUnite. Mengapa tidak?
Saya sangat berharap bahwa ide ini tidak hanya mengubah hidup saya tapi juga hidup orang lain. Tawaran saya misalnya adalah penyadaran sisi negatif diri, yaitu usaha untuk otentik dan eksis dengan segala keberadaan diri yang apa adanya. Baru setelah tahu segala realita yang kemungkinan besar berisi kemunafikan-kemunafikan itu, orang akan bisa berkembang menuju kesuksesan yang sebenarnya. Bahasa saya adalah dengan menanggalkan topeng kepribadian. Anyway.
#IndonesiaUnite!!! Ucapkan selantang sang dictator Charlie Chaplin! Ucapkan dengan penuh keyakinan bahwa aku bisa, kamu bisa, Indonesia bisa!
Mulailah bertindak! Aku juga sudah bertindak setidaknya dengan menulis seperti ini. Menjalankan kewajiban sehari-hari sambil terus mencicil mimpi besar untuk berubah misalnya kalau praktis nih, berusaha untuk jadi makin kaya dengan usaha ini itu asalkan halal.
#IndonesiaUnite tidak takut dengan arus investor luar negri yang dalam tanda kutip menebarkan jiwa inlanderis pada jutaan tenaga kerja yang mereka serap.
#IndonesiaUnite tidak takut untuk kreatif, mengisi waktu luang dengan menulis optimistik dari pada melamun, mengisi saat kosong dengan kerja sampingan yang mendatangkan keuntungan finansial.
#IndonesiaUnite tidak takut untuk buang sampah pada tempatnya.
#IndonesiaUnite semangat untuk hidup, hidup semangat, postur tubuh berwibawa, pakaian rapi, menyisir rambut, berkata sopan nan lembut, mata tidak jelalatan, rajin beribadah, rajin menjalankan sunnah, tidak bolos, menepati target posting karya ke medsos, dan lain-lain.
#IndonesiaUnite berkontribusi pada negara dengan menuliskan ide-ide pembangunan dan mengirim ke email anggota DPR, DPC parpol, ormas ini itu, LSM, dll.
#IndonesiaUnite memastikan diri tidak jadi beban negara dengan rajin bekerja sehingga tidak perlu ikut serta sebagai peserta jaminan sosial ini itu. Mari jari warga kelas menengah yang hidup tanpa hutang. Mari jadi warga kelas menengah dengan usaha tekun untuk mencetak uang, syukur jadi pengusaha kecil yang membesar. Mari jadi kelas menengah karena dengan begitu, kelas bawah akan terangkat dengan sendirinya.
#IndonesiaUnite mari lepas dari jerat rawan miskin dengan memiliki aset minimal dua miliar rupiah per kepala. Bila ada empat orang dalam keluarga anda, maka perlu delapan miliarlah untuk menjami bahwa anda takkan pernah jatuh miskin.
#IndonesiaUnite memiliki standar kemapanan ekonomi yang mendatangkan penghasilan pasif.
#IndonesiaUnite mampu hidup secukupnya: pengeluaran setahun ≤ 50% penghasilan pasif per tahun.
#IndonesiaUnite sadar prioritas, mana yang perlu dan belum perlu. Mana yang mendesak dan yang belum. Kalau belum punya fundamental ekonomi yang adekuat, ya jangan ingin yang aneh-aneh (misalnya menikah, jeng jeng).
#IndonesiaUnite dasar fundamental ekonomi mikro adekuat adalah kepemilikan minimal dua miliar rupiah per kepala karena dengan demikian bisa hidup secukupnya dari pendapatan pasif bunga deposito.

#IndonesiaUnite ah tidak sesederhana itu mas bro
#IndonesiaUnite bro, kamu kayaknya salah konsep deh, #IndonesiaUnite tuh ga gitu. Ide itu mah cuma buat mu aja! Masa ga nikah kalau ga punya dasar fundamental itu???!!!

#IndonesiaUnite saya makin senang bila banyak orang yang ga setuju agar saya bisa belajar dari perspektif yang berbeda-beda. Kondisi keluarga saya tentu mempengaruhi bro sis sekalian. Saya juga kurang mengerti siklus hidup para pekerja di Jakarta.
#IndonesiaUnite maaf bro sis sekalian. Saya masih miris dengan sistem inlanderis.
#IndonesiaUnite mungkin saya yang perlu belajar dengan gabungkan diri dalam sistem inlanderis itu. Tapi saya ini petani di desa terpencil di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Saya bisa hidup sederhana dan cukup dengan bercocok tanam seperti ini. Jujur saja, mimpi besar untuk ingin ini itu sudah sekian lama saya urungkan. Prinsip dasar fundamental ekonomi mungkin memang cuma buatku ya bro sis.
#IndonesiaUnite enaknya jadi tani apa coba? Banyak waktu luang buat nulis di blog lah, facebook lah, bikin video untuk youtube dan instagram lah. Ya memang benar, saya bisa begini karena faktor x yaitu kemapanan orang tuan yang yah cukuplah untuk hidup sehari-hari begini. Dan lagi, faktor x yang lain adalah orang tua punya sawah untuk saya garap. Faktor x lagi, saya hanya dua bersaudara dengan kakak perempuan saya yang sudah menikah dan hidup mapan dengan suaminya.
#IndonesiaUnite kalau melihat faktor x memang seakan dunia tidak adil. Tapi dari kalian pasti banyak juga kan yang punya faktor x. Ayolah omong yang sebenarnya saja! Aku ingin omong-omong praktis sama kalian-kalian yang punya faktor x.
#IndonesiaUnite faktor x adalah dasar yang lebih fundamental dari pada dasar fundamental ekonomi sebagaimana telah saya jelaskan.
#IndonesiaUnite kalau boleh jujur ya, banyak orang yang katanya berhasil atau sukses itu kan karena faktor x!?!? Karena sudah tidak mikir untuk makan sehari-hari pada intinya. Inilah faktor x yang jelas tidak dimiliki kaum pekerja di perantauan misalnya.
#IndonesiaUnite dunia sungguh tidak adil yah!
#IndonesiaUnite tapi saya ingin sukses dan berhasil dalam mewujudkan cita-cita ini tanpa faktor x. Toh saya tahu, faktor x tidak berfungsi lebih kecuali menjamin saya bisa makan tiap hari tanpa rasa khawatir.
#IndonesiaUnite bisa makan tiap hari tanpa rasa khawatir misalnya kalau uang habis gimana?
#IndonesiaUnite kalau kebutuhan fisiologi dasar ini terpenuhi, maka kebutuhan lain yang lebih sekunder dan tersier seperti prestasi ini itu, pasti mudah saja untuk diraih.
#IndonesiaUnite sekian dulu. Lain kali kan saya lanjutkan dengan topik lain.
#IndonesiaUnite jujur saja untuk masa-masa ini saya masih berjibaku dalam pergumulan dengan faktor x dan dasar fundamental ekonomi.
#IndonesiaUnite trimakasih, tks, mauliate, matur nuwun, hatur nuhun, grasias, danke schoon, viele dank.
#IndonesiaUnite horas! Rahayu! Wassalam.

Hijrah



Essay Parodi Jumat, 30 Oktober 2015
Hijrah

Pagi ini belum sempat nonton dan ndengerin pak Mario. Maaf pak, tadi buru-buru banget. Tapi kalau pak Mario tahu justru ia pasti senang karena tandanya saya punya kerjaan, hahahhaha.
Anyway. Meski kebiasaan yang hendak saya bangun itu mis pada hari ini, tapi kebiasaan satunya tidak bisa mis. Yang satu ini mau tidak mau, entah bagaimana caranya, musti dilakukan sebelum ‘kerja’. Hahahhaha...... Tanda apostrof itu memberi makna banyak, hahahhahah lol.
Kebiasaan itu adalah baca buku dan nulis yah, essay atau kegundahan pagi macam ini. Kalau membaca pasti kan dapat inspirasi, nah, aku tuh sayang sekali dengan mozaik-mozaik itu intuitif itu, maka tuliskan saja. Eh, barangkali suatu saat kelak dapat berguna.
Jadi pagi ini saya baca-baca dulu cicilan Nasional.is.me. Itu buku dah terkenal banget lah setidaknya di kalangan kawula muda. Gua masih muda kaleeee,,,,, Saya berani bilang bahwa anak muda Indonesia belum Indonesia kalau belum pernah baca buku ini. Anak muda Indonesia bahkan bisa kehilangan jati diri masa kini kalau belum baca buku ini. Yah aku sih aga fanatik yah, tapi si Pandji itu emang penulis dan speaker kegemaranku yang gue banget. Gaulnya dapet, seriusnya dapet, tapi tetep anak mudaaaa banget.
Pagi ini saya membaca subbab ‘dari Sabang sampai Merauke’. Kebetulan saya orangnya suka jalan-jalan tapi tak punya banyak waktu buat lakuinnya. Sementara ini masih sayang waktu juga sih, mendingan buat baca buku, lebih dapat banyak. Tapi lambat laun saya tahu ini salah besar. Oke deh, nanti kalau ada waktu pasti aku jalan-jalan. Jalan-jalan keliling kota dengan kaki just like fugue. Hobiku yang paling dalam.
Baik. Kenapa saya suka baca kisah perjalanan? Sederhananya untuk kompensasi karena saya sendiri tidak sempat jalan-jalan (kaki keliling kota). Pengen sih jalan-jalan keliling kota, propinsi, bahkan dunia sekalian tapiiiii kan butuh wang! Nah ini yang masih jadi masalah. Jadi, kompensasinya ya baca buku kaum musafir misalnya Geography of the Bliss karya Erich Weiner, trilogi kegilaannya si Agustinus Wibowo, dan lain-lain. Eh, kebetulan subbab Nasional.is.me kali ini sesuai dengan kehausanku.
Sebelum mengakhiri tulisan ini dan kembali pada bacaan, saya mau cerita dikit kenapa saya suka mfugue. Mfugue adalah kegemaran saya untuk jalan-jalan keliling kota dengan, jalan kaki. Awalan huruf ‘m’ berarti bahwa saya sebagai pelaku sedang melakukan aktifitas fugu dulu. Seperti dalam mbaca misalnya, artinya sedang melakukan aktifitas baca. Nah, sekarang kalau mfugue sudah jelas kan?
Fugue sendiri adalah suatu kelainan (dalam bahasa Inggris disorder, bukan penyakit – hanya order yang tidak biasa saja og) psikologis yang menyebabkan orang suka jalan-jalan (pake kaki) sampai jauh karena tidak punya lagi orientasi jarak dan rasa lelah. Begitu sederhananya. Dalam kasus saya, mfugue kegemaran saya tidak sampai terdiagnosis karena memang tidak memenuhi kriteria diagnosis. Begitulah bila fugue disorder dilihat secara kontinum. Halah, apa sih.
Intinya gue mau cerita bahwa kebiasaan mfugue itu membuatku makin bijaksana. Lol.
Serius, gua ga bercanda yah. Dari mfugue saya jadi melihat realita jalan raya dan kehidupan manusia sehari-hari yang mengakar rumpun. Saya jadi tahu apa itu arus bawah, kehidupan yang sebenarnya, kehidupan yang membumi, dst. Ternyata jauh dari kesan kehidupan yang digambarkan para motivator. Eh, maaf yah buat para motivator, terutama bagi yang sadar bahwa konteks pembicaraannya seakan-akan berlandaskan pola kemasyarakatan Jakarta sentris. Maksudnya apa? Jujur saja, tiap kali ndengerin motivator-motivator itu ya, mereka tuh omongnya seakan cuma relevan untuk masyarakat Jakarta dengan dinamika sehari-harinya saja. Kalau omongan mereka dilihat dari kaca mata daerah-daerah lain, kok rasanya jadi aneh dan tidak relevan.
Nah, para motivator yang terhormat, apakah saya salah? Semoga saya ada benarnya meski tidak menutup kemungkinan juga bisa salah.
Lol.
Akhir kata, semoga kita bisa berhijrah seperti anjuran nabi. Saya sendiri senang bila saja bisa berhijrah terus menerus, sebab mungkin karena saya tidak pernah mengalami rasa sakit dan derita mereka yang berhijrah. Mereka yang selalu berhijrah misalnya karena orang tua pindah tugas melulu, mungkin juga tidak pernah merasakan derita dan rasa sakit orang macam saya yang sejak kecil menetap di satu rumah melulu. Ya, dunia ini emang aprioristik gitu.
Oke deh, by the way. Tks banget buat temen-temen yang sudah baca postingan saya kali ini. Semoga tambah wawasan. Selamat menjalani kehidupan. Selamat berhijrah. Saya mau hijrah dulu ke pekerjaan hari ini, hahahhahah.

Gatal-gatal



Gatal-gatal

Sang Barhu adalah penguasa jagad raya yang cukup besar. Ada yang lebih besar, namanya Mishna. Jangan kau pikirkan mereka itu lelaki atau perempuan. Tidak penting jenis kelamin itu sebab peran jauh lebih krusial.
Sistem penguasa mereka seperti dewa-dewa mitologi Yunani yang kadang membingungkan sebab tidak ada gugus tugas yang jelas sehingga tiap pihak dapat saling klain kekuasaan sampai-sampai banyak korban jiwa baik yang diharapkan maupun yang tidak diharapkan, dari pihak manusia atau dari pihak dewata sendiri.
Pertama kali bila kau mulai belajar mengenal dunia ini, sebaiknya berkenalan dulu dengan Sang Barhu dan Mishna. Jangan sekali-kali menyebut mereka dewa atau tuhan ini tuhan itu, bisa menimbulkan keberabean diatara teman-teman pihak-pihak itu yang ga bisa ngerti-ngerti apa sebenarnya yang sedang terjadi.
Sang Barhu sudah lama meninggal sehingga kini tinggal ruh. Yang kau lihat itu ruh meski seperti tubuh. Bila sosok itu didekati dan dihembusi nafas lemah saja, bisa melayang sampai beberapa pulau. Kalau Mishna tidak begitu. Ia lebih anggun, cantik, meski amat berbobot seperti wanita cantik abad pertengahan di Prancis.
Mishna senang sekali mendengar cerita Barhu tentang kekonyolan negri sampai kadang pipis di celana, Barhunya.
Cerita yang paling sering diulang adalah epos Supermen yang waktu itu menyempatkan diri untuk foto selfie dengan Nyi Roro Jonggrang. Konon, pihak Supermenlah yang menyebabkan Bandung Bondhowosho marah besar hingga mengadu kepada Ken Arok. Masalah jadi makin runyam sebab Ken Dedes, temapt Ken Arok biasa meminta nasihat, sedang menghadiri pembukaan Universitas Hardvard di Amrik.
Kegokilan Mishna tak perlu diragukan lagi. Siapapun sudah saling mengerti bahwa baik Barhu atau Nyi Roro Jonggram memang menyimpan panah asmara satu sama lain. Mishna maunya tidak bisa diatur. Ingin cerita macam apa saja pokoknya harus ada. Inilah letak kecerdasan Barhu yang tiada tara. Ia pandai meramu cerita sampai absurd binti absurd binti abdurd sampai yang lebih kecil dari sepertriliunnya sepertriliun.
Terkadang semua orang ingin menikmati cerita tentang dunia fiksi Batman dan Kungfu Hustle yang saling beradu kekuatan untuk melawan dominasi Minion di Planet Namex. Ya tinggal meramu saja sampai jadi cerita dengan tetap mempertahankan alur tertentu, tokoh tertentu, penokohan tertentu, sudut pandang penceritaan tertentu, dan lain sebagainya.
Baik. Itu tadi adalah introduksi yang memang belum masuk kepada inti cerita sebenarnya sebagaimana ingin saya ceritakan kepada anda semua penggemar cerita absurd. Perhatikan sekali lagi, ini adalah kisah yang super ga jelas, jangan harapkan manfaat signifikan karena selain tak ada, ia sulit ditemui sementara waktu ini. Mohon diindahkan sekali lagi.
Angkat tanganmu untuk Indonesia dengan mengacungkan kedua telunjukkmu ke udara bebas sambil serukan, “Salam akidah!”
Marilah kita berdoa.
Ya Tuhan yang entah sekarang ada di mana, lindungilah dan berikanlah kami ketabahan untuk menulis apalagi untuk membaca naskah ini sebelum para editor akhirnya memuntahkan seluruh isi lambung beserta lambungnya yang kemerahan.
Semoga rohmat dariMu mampu membuat kami tabah dalam menjalani proses absurditas ini sampai skema yang benar terpelajari sempurna oleh beberapa sarjanawan sarjanawati yang Engkau utus sebagai malaikat kami. Ia sedari tadi berdiri untuk menjagai tiap perhatian mata kami sampai nanti sudah selesai menggeluti. Amin.
Hari ini Mishna ingin menikmati cerita tentang pengalaman si Teodoris kala menyelesaikan naskah William Shekespier (semoga penulisan nama itu benar, apalah arti sebuah nama).
Awalnya Teodoris merasa gatal di seluruh tubuh mungilnya yang selalu berbalut selembar kain panjang saja. Kain panjang itu dililitkan sedemikian rupa sehingga tertutuplah seluruh bagian Tubuh Teodoris. Kain lilit itu juga memudahkan si Teodoris yang gatal-gatal untuk menggaruki beberapa bagian tubuh sensitifnya. Terkadang, ia sengaja memperlihatkan satu atau dua wilayah-wilayah tertentu yang dianggap tabu oleh masyarakat umum. Tapi ia tak peduli. Yang penting isis dan hepi aja sudah cukup untuk memanjakan semua pihak. Toh, mereka juga senang bila memiliki sajian gratis Tubuh Teodoris yang berbalut kain lilit.
Busana lilit seperti itulah yang mendampingi kesendirian Teodoris di Perpustakaan Sanata Dharma Mrican Yogyakarta tiap hari Minggu pagi sampai sore. Ia masuk sendiri dan keluar sendiri tanpa seorang pun tahu apalagi memperhatikan. Selain hari Minggu perpus memang tutup, ia punya kunci misterius yang didapat secara gaib dari salah satu pengusaha kunci di bilangan Demangan. Para pengusaha itu memang sudah ahli menyadur kunci di gedung ini atau itu. Aku sendiri pernah mencobai kejahatan mereka itu tapi gagal. Mungkin mereka tahu bahwa aku belum terampil.
Sengaja AC perpus tidak dinyalakan, toh Teodoris tidak bisa merasakan panas dingin kehidupan. Kain lilitnya sering sudah sangat hangat sampai tidak memungkinkan udara masuk kecuali melalui salah satu lubang hidungnya yang belum diamputasi.
Minggu ini ia telah bersumpah komitment prasetia untuk menyelesaikan seluruh karya Shekespeare dalam satu hari dengan kecepatan mengagumkan yang tidak perlu dipertanyakan keabsahannya bila nanti ada tim penguji akreditasi atau keahlian misalnya karena mau memberi semacam sertifikat tanda lulus kecepatan membaca.
Sumpah prasetia Teodoris berbunyi: Aku bersumpeh untuk menyelesaiken semua naskah sastra karya William pada hari ini juga sebelum matahari terbenam yang menandai akhir hidupku.
Mata hari tenggelam memang menyebabkan Teodoris mau tak mau harus segera berpindan menuju semesta lain, entitas lain, eksistensi lain dan menjadi oknum yang sepenuhnya baru. Pada pagi harinya Teodoris baru akan kembali kepada jati dirinya.
Sering kasihan juga misalnya dia sedang tertransformasi ke alam nerakawi yang menyebabkan penderitaan seperti dilindas asmara. Bagi Teodoris yang kini sudah beranjak gede, siksa paling berat dalam hidup ini adalah cinta. Ia sama sekali tidak ingin apapun yang berbau cinta.
Penderitaan ragawi mah, Teodoris justru malah senang minta ampun. Dia itu sudan masokis, sadomasokis, penganut paham sadisme, dan lain-lain. Semua kecenderungan seksuil yang aneh-aneh sudah menyatu padu dalam raga jiwa Teodoris sejak dahulu kala si Christophoris menciptakan mimpinya.
Romeo dan Juliet sudah terlalu mainstream meski aku sendiri belum pernah menyelesaikan pembacaan mereka. Aku cuma dengar dari konon-konon dan konon. Tapi Teodoris tidak begitu. Baik panggil saja gadis itu Doris, sebab ia sering gatal-gatal.
RJ, begitu singkatan kegemarannya, adalah epos yang musti dikaji dengan analisis wacana yang paling ketat seperti seorang profesor miskin dari daerahnya yang senang pada Bhagawad Gitta. Doris membedah RJ sambil mendengarkan alunan Gitta dari Raul Seixas featuring Cleopatra Stratan.
Perlu waktu setidaknya tujuh jam untuk menyelesaikan RJ. Baru setelah itu Doris sadar bahwa RJ berbicara tentang cinta. Ia jadi makin gatal-gatal. Kegatalan itu sampai menyebar ke area-area klitoristik yang mudah terdeteksi oleh sabetan halus buluh-buluh kulai. Kegatalan kali ini sudah tidak termaafkan. Ia geram, gusar, dan was-was, jangan-jangan gatal ini membawanya kepada kematian.
Kisah Romeo dan Juliet disadurnya dengan gaya bebas sebebas ekspresinya ketika gatal sudah tak terelakkan bahkan oleh obat yang bernama Doris. Doris memakai Doris yang tinggal sedikit itu sebab sebagian besar isinya sudah digunakan untuk menterapi dingin si Malki, anjing Pit Bull kesayangan ayah Mishna.
Cara minggal Romeo yang dipilih masih tetap bunuh diri namun kali ini dengan cara menyayat-nyayat tubuhnya sendiri dengan garpu sampai kepuasan tak terbatas itu tak pernah dicapai jua. Pernahkah kalian merasakan gatal tak terperi macam Doris itu? Sudah diobati dengan Doris juga tak sembuh, padahal Doris biasanya digunakan untuk anjing yang memerlukan takaran kimiawi lebih tinggi agar efek lebih ces pleng.
Bila kalian pernah gatal-gatal di sekujur tubuh, maka pastilah mengerti betapa nikmatnya bila kegatalan itu disikapi dengan tindakan menggaruk tanpa henti. Garukan makin kuat makin nikmat rasanya. Makin lama jemari tidak berdaya memberi sentuhan yang diinginkan, maka beralih menggunakan alat-alat lain. Mulai pakai alat penggaruk konvensional yang bisa diperloleh di indomarket terdekat sampai alat penggaruk non konvensional yang bisa dicicil dari alvamaret terjauh.
Kalau sudah begitu tapi belum puas? Ya pakai sendok, garpu, pisau kalau perlu, dan lain sebagainya.
Begitulah Romeo mati.
Akhirnya Juliet juga mati dengan cara yang relatif sama. Juliet lebih berani dengan memakai pisau dapur ibu Romeo.
Akhir kata, semua tokoh dalam cerpen ini sudah puas.


Cerpen HD. Wiyono/ Kamis, 29 Oktober 2015






Biografi Singkat Kesatria Cahaya Asal Soromintan



Essay 28 Oktober 2015
Biografi Singkat Kesatria Cahaya Asal Soromintan
Sore, 18.33 WIB saya baru mulai menulis setelah terdorong oleh tulisan Panji Pragiwaksono yang incredeble dalam Nasional.is.me. Panji bercerita sejarah hidupnya dengan singkat dalam subab kedua. Saya jadi ingin menuliskan sejarah singkat hidup saya.
Latar belakang keluarga. Jujur saja, saya kurang mengerti cara bapak dan ibu membangun keluarga ini. Saya belum pernah tanya sejarah keluarga Wiyanan kami. Secara umum yang kutau, dulu kami tidak semapan sekarang. Kami baru mulai mapan setelah ibu melanjutkan usaha temannya yang banyak hutang dengan ibu. Usaha itu adalah arisan pasar. Kemampuan ini saya tahu diwarisi ibu dari nenek yang sungguh tekun cari duit dengan bisnis arisan.
Saya masih berpegang teguh bahwa dasar paling fundamental dari sebuah keluarga adalah status ekonomi. Overall, kami tergolong mapan setelah ibu berbisnis arisan, tepatnya pasca orde baru. Sebelum orba sendiri ayah dan ibu memang sudah bekerja kantoran. Ayah adalah PNS di UGM sedangkan ibu adalah perawat di RS. Panti Rapih Yogyakarta. Penghasilan pas-pasan saja. Saya ingat kala masih balita, entah usia berapa, suka sekali jajan kalau lagi ke warung pak Karno. Dibeliin sih sama ibu tapi setelah sampai rumah diomelin, “Dasar boros!”
Omelan itu sungguh berpengaruh pada saat ini. Saya ambil hikmah positifnya. Saya jadi tidak seneng jajan alias bisa super hemat. Saking hematnya nih ya, kalau akhir-akhir ini antar kakak belanja ke supermarket, bawaannya sewot melulu, “Kenapa sih belanja di supermarket kalau bisa belanja di pasar yang lebih murah!” Kakak perempuan saya tidak menggubris karena ingin memberi panganan ‘terbaik’ bagi sulungnya yang dua tahun tiga bulan. Tapi sungguh, kalau aku punya anak kelak, meski baik keadaan ekonomiku, anak kan kuberi makan hasil bumi sendiri atau hasil belanja dari pasar biar dia tahu seperti apa hidup prihatin itu. Hahahhaha. Btw, prihatin tidak selalu sama dengan miskin.
Ok, anyway. Kembali ke biografi.
Balita. Ingatan pertama yang masih bercokol di otakku adalah minta ditetah bapak. Jalanku serasa masih kaku sekaligus lemes. Rengekku terus menerus, “Tetah, tetah, tetah.” Samar ingatan itu. Yang lebih jelas adalah terakhir kali aku netek ibu. Waktu itu sudah bisa lari-lari kecil. Tepatnya di samping rumah kakek nenek dari ayah, tiba-tiba aku ingin netek. Ibu, kakak ipar perempuan bapak juga ada di sana, dan entah siapa lagi sontak tertawa dengan nada sedikit marah menyindir, tapi aku bergeming. Aku tetap saja netek. Kenikmatannya bukan di manisnya asi, tapi di kenyotan bibirku ke puting ibu. Asinya sih hambar.
Ibu yang mungkin malu lalu menyiasati dengan ide dari beberapa orang di sana yaitu dengan mengolesi puting dengan daun pepaya. Memori audio itu amat membekas.
Lalu aku netek lagi. Pahit rasanya.
Kapoklah aku.
Itulah terakhir kali aku netek ibu. Memori ini begitu membekas. Berkesan. Mungkin aku orang yang berbakat dalam hal ingat mengingat. Itulah mengapa sekarang saya bergelut dalam bidang sains atau ilmu pengetahuan terutama kajian sosial yang perlu mengingat banyak hal. Anehnya di sini, jadi kalau soal mengingat konsep ilmiah, ga sombong ya, perkara mudahlah bagiku. Tapiiiiiii,,,,,, kalau untuk mengingat perkara sehari-hari, di mana meletakkan kunci, tadi ke mana aja, di mana meletakkan ini itu, sedang ninggal apa di dapur, sedang ninggal kompor nyala atau tidak, dan seterusnya, aku betul-betul teledor. Entah mengapa. Ada juga profesor salah satu universitas yang begitu. Kalau tentang matematika, aduh, semua rumus tak ada yang terlupa, tapiiiiiiiiii, tadi taruh mobil di mana, lupa.
Balita. Aku cukup bahagia. Secara umum meski waktu itu kami belum terlalu mapan namun saya tidak merasakan kemiskinan secara signifikan. Begitu banyak yang jauh lebih tidak beruntung dari pada kami. Pernah waktu itu aku bawa Oreo (kayaknya sudah tidak balita lagi sih) yang biasa saja bagitu tapi jadi rebutan super seru bagi teman-temanku.
Bahkan kami sempat punya asisten rumah tangga. Aku pernah dirambati hewan paling kubenci seumur hidup, reno alias kelabang yang tubuhnya super sensitif. Senggol sedikit saja darahnya nyala, hijau warnanya. Mungkin alien dia itu, masih tunggal bapak ibu dengan sang predator. Nah, asisten rumah tangga waktu itu malah ada dua yang lantas menolongku untuk selamat dari gerayangan hewan menyebalkan itu.
Lalu jelang TK kami tak punya asisten rumah tangga. TK, kami punya lagi, namanya Amini, kupanggil Lik Ni. Kedekatanku dengan Lik Ni melebihi kedekatanku dengan ibu, bapak, maupun kakak perempuanku.
Sampai tahap ini kupending dulu tulisan ini. Aku terpikir oleh konsep tulisan yang ‘seharusnya’. Jujur saja, essai ini tadi tidak kukonsep dengan peta sistematis yang baik. Jadi sekarang terasa: harusnya tadi gini lalu gitu lalu gini dan seterusnya.
Baik, kalau begitu, aku konsep dulu di sini:
Autobiografi singkat yang baik adalah:
-          Maksimal 10 halaman kuarto agar bisa jadi cerita pendek dengan teknik konversi ekuivalen. Tapi toh lebih ya tidak apa-apa karena essay sosial lepas seperti kebiasaanku tidak memiliki batasan maksimal.
-          Menceritakan garis besar cerita kehidupan pribadi secara holistik.
-          Mula-mula dengan sudut pandang orang pertama tokoh utama serba tahu.
-          Dimulai dari latar belakang sosial: memperkenalkan profil diri dan keluarga. Nama lengkap anggota keluarga, domisili, spiritualitas, pekerjaan masing-masing, hobi, dan lain sebagainya sejauh enak jadi informasi menarik bagi orang lain. Ingat point pentingnya: bermanfaat bagi orang lain alias bisa dipelajari, bukan sekadar curcol kosong di hadapan psikeater atau psikolog.
-          Latar belakang ekonomi: diikutkan dalam perkembangan masa hidup.
-          Balita: ingatan pertama,
-          TK
-          SD
-          SMP
-          SMA
-          Kuliah
-          Saat ini.